Globalsatu.com, MINAHASA - Mulai berkurangnya debit air dipersawahan Desa Kayuuwi Kecamatan Kawangkoan Barat langsung ditanggani serius Pemerintah Desa ( Pemdes) setempat. Dan menanggulangi permasalahan ini Willem Raintung sebagai Hukum tua mengajak warga mencari sumber air lain walaupun harus menempu pekerjaan yang cukup rumit.
Mengandalkan Dana Desa (DD) 390 juta rupiah, Pemdes dan Masyarakat Kayuuwi membangun saluran air baru yang sumber airnya dari sungai Maasem di wilayah Desa Kanonang dengan jarak tempuh kurang lebih 1500 meter.
Terlihat dalam pembuatan irigasi ini, disamping memerlukan bahan baku yang cukup banyak, biaya bahkan tenaga yang diperlukan pun cukup ektra.
" Kita mengandalkan grafitasi, jadi tidak perlu mesin penghisap air, cukup dengan pipa saja, tetapi harus digali terlebih dahulu tempat pemasangan pipa tersebut.Memang cukup sulit pengerjaanya, karena kadang kala kita diperhadapkam dengan lokasi terjal juga adanya bebatuan dan itu yang mempersulit pengerjaan, " kata Raintung.
Niat pembangunan sumber irigasi baru ini menurut Raintung adalah satu keharusan menginggat luas sawah dikepolisian desa itu cukup besar, namun kini mulai mengering."Luas area persawahan kita sangat besar 30 sampai 40 hektar, dan airnya sudah tidak mampu membasahi persawahan kami,jadi kita harus mencari sumber air dan membangun irigasi baru," ujarnya.
" Kita alokasikan anggaran untuk pengairan ini ada 390 juta rupiah dari Dana Desa ( DD) dan itupun sudah tertata di RPJMDes dan telah melalui Musyawara Desa ( Musdes)
Pembangunan irigasi baru ini dipastikannya akan mengairi persawahan Desa Kayuuwi di bulan Agustus mendatang.
" Bulan Agustus sawah-sawa kita pasti sudah terairi.Kalau itu sudah selesai sangat berpengaruh pada pembukaan lapangan kerja, karena masyarakat dimasa Covid-19 ini perekonomiannya menurun dan salasatu penyebabnya adalah pendapatan disektor pertanian yang berkurang," pungkasnya.( Ody)
